Menakar Keseimbangan: Sebuah Refleksi Ekologis di Serambi Madinah pada perjalanan 25 Tahun Provinsi Gorontalo

Mimbar Ide300 Dilihat

Annahdlah.com – Gorontalo negeri yang dijuluki “Serambi Madinah”, pernah dikenal sebagai wilayah yang tenang dengan hamparan hijau yang menyejukkan mata.

Sebelum tahun 2000, saat masih menjadi bagian dari Sulawesi Utara, ritme kehidupan di sini berjalan perlahan, selaras dengan alam. Sungai Bone mengalir jernih, membawa kesejukan dari hulu Suwawa, sementara hutan-hutan di seluruh jazirah Gorontalo berdiri gagah sebagai benteng alami. Kala itu, meski geliat ekonomi belum sepesat sekarang, alam memberikan rasa aman dan kenyamanan yang tak ternilai harganya.

Namun, seiring fajar otonomi daerah menyingsing, semangat pembangunan mekar dengan begitu hebatnya. Kita berlari mengejar ketertinggalan, membangun infrastruktur, dan membuka keran investasi. Sebuah niat mulia untuk menyejahterakan rakyat.

Akan tetapi, di tengah derap langkah kemajuan ini, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: apakah pembangunan ekonomi yang kita banggakan sudah berjalan beriringan dengan kelestarian alam yang dititipkan Tuhan? Ataukah kita sedang meminjam terlalu banyak dari masa depan anak cucu kita?

Data berbicara dengan jujur, meski terkadang pahit untuk ditelan. Merujuk pada data Global Forest Watch, sejak awal era otonomi hingga tahun 2023, Gorontalo mencatat kehilangan tutupan pohon yang cukup signifikan, mencapai angka kisaran 140.000 hektare.

Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan cerminan dari perubahan lanskap ekologis kita. Bukit-bukit yang dulunya rimbun kini sebagian telah beralih fungsi. Kita perlu bertanya pada nurani, apakah konversi lahan yang masif ini sepadan dengan risiko jangka panjang yang harus kita tanggung?

Di sektor pertanian, program agropolitan dengan komoditas unggulan jagung memang telah melambungkan nama Gorontalo. Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan tantangan lingkungan yang serius.

Kita menyaksikan bagaimana lahan dengan kemiringan ekstrem—yang secara kaidah konservasi tanah seharusnya menjadi area tangkapan air—kini terbuka lebar. Fenomena ini memicu laju sedimentasi yang luar biasa ke Danau Limboto. Danau kebanggaan kita ini kian mendangkal, seolah mengirimkan sinyal lelah karena harus menampung beban erosi dari hulu yang tak lagi mampu menahan air hujan.

Tak hanya di daratan, perut bumi Gorontalo pun menyimpan kekayaan mineral yang menggoda. Aktivitas pertambangan, baik rakyat maupun korporasi, menjadi tumpuan ekonomi banyak warga. Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap resiko alamiah dan residu yang ditinggalkannya.

Studi lingkungan hidup tahun 2007 pernah mencatat kadar merkuri di aliran Sungai Bone mencapai angka yang melampaui ambang batas/ baku mutu yang aman. Ini adalah peringatan dini bagi kesehatan generasi mendatang, dimana air adalah sumber kehidupan, dan menjaga kemurniannya adalah kewajiban moral kita semua.

Alam memiliki bahasanya sendiri untuk menegur kita. Banjir bandang tahun 2016 yang meluap dari Sungai Biyonga dan banjir besar tahun 2021 yang merendam ribuan rumah di dataran rendah Limboto dan Kota Gorontalo, banjir bandang tahun 2022 di Mopuya, dan sejumlah wilayah di Gorontalo pada bebarapa tahun terakhir, sejatinya adalah pesan.

Pesan bahwa daya dukung lingkungan kita sedang menurun. Daerah resapan air yang berubah menjadi beton dan lahan terbuka membuat siklus hidrologi terganggu. Hujan yang seharusnya menjadi rahmat, berubah menjadi genangan yang membawa kerugian materi dan imateri bagi masyarakat.

Dampak tekanan lingkungan ini juga dirasakan oleh penghuni asli hutan kita. Flora endemik seperti pohon Malahengo, yang menjadi identitas hayati Gorontalo, kini keberadaannya kian langka dan terbatas di beberapa titik saja khususnya di Bone Bolango.

Demikian pula dengan fauna/satwa khas seperti kera /Dihe (Macaca nigrescens), burung maleo, babirusa, anoa, tarsius sulawesi, yang ruang hidupnya semakin terhimpit.

Beberapa jenis ikan khas di Gorontalo seperti Payangga, hulu’u, hiluwolo, tola, hele, manggaba’i, dan lainnya nyaris punah. Hilangnya keanekaragaman hayati ini adalah kerugian tak ternilai, karena setiap spesies memiliki peran unik dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan manusia.

Perubahan iklim global turut memperparah situasi lokal kita. Warga Kota Gorontalo tentu merasakan suhu udara yang kian menyengat, seringkali mencapai 31-32 derajat Celcius di siang hari.

Fenomena Urban Heat Island atau pulau bahang perkotaan mulai terasa akibat berkurangnya vegetasi peneduh dan dominasi bangunan beton. Pemanasan ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berpengaruh pada pola tanam petani dan kesehatan masyarakat secara umum.

Membangun daerah otonom yang maju adalah cita-cita luhur, namun pembangunan yang berkelanjutan adalah sebuah keharusan. Kita tidak boleh terjebak pada euforia pertumbuhan ekonomi semata (PDRB) tanpa memperhitungkan degradasi lingkungan.

Konsep ekonomi hijau atau Green Economy mengajarkan kita untuk menghitung “biaya” kerusakan lingkungan sebagai bagian dari neraca pembangunan. Jangan sampai keuntungan ekonomi hari ini harus dibayar mahal dengan bencana ekologis di kemudian hari.

Sebagai penutup, mari kita kembali pada kearifan ilahiah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Maka, solusi bijak ke depan adalah rekonsiliasi dengan alam. Pemerintah perlu memperketat tata ruang dengan prinsip kehati-hatian, melakukan penelaahan terpadu dan komprehensif terhadap izin tambang di kawasan rawan, serta mengedukasi petani tentang metode terasering dan agroforestri yang ramah lingkungan.

Mari kita jadikan Gorontalo tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga lestari alamnya, sebagai warisan terindah bagi generasi pelanjut di Serambi Madinah ini. Sebuah adagium menyatakan : ”Mari perlakukan dengan baik bumi kita, agar kelak bumi akan menjaga dan memperlakukan kita dengan baik pula.

Selamat Ulang Tahun ke 25 Provinsi tercinta, Provinsi Gorontalo.  Semoga Allah swt melindungi dan terus memberikan berkah untuk masyarakat Indonesia, khususnya kita di Gorontalo, dan di jauhkan dari mara bahaya.

 

Penulis: Rustam Anwar
(Mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan UNG, Dosen Teknik Lingkungan UNU Gorontalo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *