Tembus Seleksi Kemenpora, Pemuda Gorontalo Siap Jadi Agen Diplomasi Indonesia-Australia

Nasional, Warta56 Dilihat

Annahdlah.com – Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) resmi mengumumkan hasil Seleksi Nasional Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) Tahun 2026.Kemenporaemha

Dari seluruh pemuda di penjuru negeri, Annafia Dwiyanti berhasil mengukuhkan posisinya sebagai delegasi tunggal yang siap mewakili Provinsi Gorontalo sekaligus Indonesia ke Negeri Kanguru.

Keberhasilan Annafia tertuang dalam surat resmi Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora RI Nomo..r PP.03.05/9.24.5/D-I/IX/2026. Ia menjadi bagian dari 21 pemuda terbaik se-Indonesia yang dinyatakan lolos seleksi super ketat setelah bersaing dengan delegasi terpilih dari berbagai provinsi.

Mendengar kabar membanggakan ini, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafpora) Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya.

“Kami sangat bangga atas pencapaian Annafia Dwiyanti. Ini membuktikan bahwa pemuda Gorontalo memiliki daya saing yang luar biasa di tingkat nasional bahkan internasional. 

Kami berharap Annafia mampu menjadi duta daerah yang memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi Gorontalo di Australia, serta membawa pulang ilmu yang bermanfaat untuk kemajuan daerah,” ujar Sultan Kalupe saat dikonfirmasi, Ahad (29/9/2026).

Senada dengan Kadis, Kepala Bidang Pemuda Disparekrafpora Provinsi Gorontalo, Muchlis S. Huntua, juga menyampaikan rasa syukur dan menekankan pentingnya persiapan.

PCMI menjadi pemantik motivasi bagi generasi muda di Bumi Serambi Madinah untuk terus berani bermimpi dan bersaing di kancah internasional, “tegas Kabid Pemuda Muchlis Huntua, diakhir penyampaiannya.

Secara terpisah, Ketua PCMI Gorontalo, Vicky Dangkua menyampaikan bahwa Program AIYEP sendiri merupakan ajang pertukaran pemuda bergengsi antardua negara yang bertujuan mempererat hubungan bilateral, memperluas jejaring global, serta melatih kepemimpinan pemuda.

Selama program berjalan, para peserta akan melewati berbagai fase krusial, mulai dari Pra-Project Development Training (Pra-PDT), PDT, Fase Online, Fase Negara Mitra (Australia), Fase Indonesia, hingga tahap Re-Entry.

Syarat yang harus dipenuhi pun tergolong tinggi, mulai dari penguasaan bahasa Inggris tingkat lanjut (seperti TOEFL ITP minimal 500 atau IELTS minimal 6) hingga penyusunan proposal/business plan pascaprogram yang berfokus pada pengembangan masyarakat (community development) di daerah asal, “tutup Vicky.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *