Buku Karya Momy Hunowu dkk, Menjadi Sumber Literasi Berharga Bagi Pengembangan Jagung Lokal

Akademia23 Dilihat

Buku yang bertajuk Sepiring Cerita Bersama Jagung -Binthe Molamahu karya Dr. Momy Hunowu,M.Si, Dr. Sunandar Macpal dan Hatim Badu Pakuna, ketiganya Dosen IAIN Sultan Amay Gorontalo,menjadi sumber literasi berharga bagi pengembangan jagung lokal khas Gorontalo, yakni Binthe Pulo, Binthe Da’a dan Binthe Kiki.

Buku yang diterbitkan oleh Deepublish Jokyakarta setebal 348+xxvi halaman ini, mengulas tuntas tentang seluk-beluk Jagung lokal Gorontalo, tidak hanya sebatas pengalaman dan ungkapan nostalgia atau romantisme tradisi masyarakat agraris di Desa Molamahu pada masa lalu, tapi juga narasi pengetahuan maupun khasanah keilmuan yang sarat dengan ide dan gagasan prospektif terkait pengembangan jagung lokal Gorontalo.

Sepiring Cerita tentang Jagung dengan mengambil potret Desa Molamahu, Kec. Pulubala Kab. Gorontalo sebagai tempat kelahiran Momy Hunowu, memang sangat ideal menjadi representasi Gorontalo secara menyeluruh. Dalam Bahasa Gorontalo, Molamahu mengandung makna sebagai terpuji yang identik dengan kebaikan, keluhuran dan keangggunan, sejalan dengan konsep hidup dan cita-cita kolektif masyarakat Gorontalo.

Prof. Dr. Tasrifin Tahara, M.Si yang turut memberikan sambutan dalam buku ini, menilai bahwa karya tulis hasil penelitian 3 serangkai akademisi dari IAIN Sultan Amay Gorontalo ini, sebagai buku istimewa. Karena ia tidak berhenti pada nostalgia atau romantisasi tradisi, tapi berbicara tentang jagung dengan bahasa sehari-hari plus kedalaman yang memungkinkan pembaca, memahami transformasi ekonomi, relasi gender hingga resistensi terhadap modernisasi yang sering datang dalam bentuk benih hibrida dan pupuk kimia. Penulisnya, yang adalah bagian dari komunitas itu sendiri, tidak mengambil jarak, melainkan menyatu dengan narasi. Dalam istilan antropologi, ini adalah native etnography yang otentik dan mungkin  salah satu bentuk  terbaiknya dalam konteks Indonesia Timur hari ini.

Di sisi yang lain, dari kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian, Obyek Pemajuan Kebudayaan Cagar Budaya yang bertajuk : “Kala Milu Pulo Menguning Hikayat Binthe Molamahu Benteng Pangan Hulonthalo yang dilaksanakan di Manna Cafe & Resto Kota Gorontalo, Sabtu (09/05/2026) terungkap, Jagung lokal Gorontalo yang sudah dikenal luas oleh masyarakatnya sejak dulu, masih sangat relevan untuk dikembangkan melalui berbagai kreasi dan inovasi, hingga menjadi sumber pangan yang tidak hanya mengandung nutrisi, tapi juga akan berdampak secara ekonomi bagi masyarakat.

Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari mahasiswa, pemerhati adat dan budaya serta para akademisi ini, sang penulis buku, Momy Hunowu yang juga seorang Antropolog, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan, Jagung atau Binthe yang secara etimologis berarti “Binthengi” atau benteng pertahanan, selain dipandang sebagai tanaman pangan, juga merupakan simbol kreativitas dan identitas budaya. Dari Binthe Pulo, Binthe Da’a hingga Binthe Kiki, ragam varietas lokal ini, telah menjadi bagian dari landskap sejarah agraria di bumi Gorontalo. Jagung juga telah hadir dan menjelma dalam wujud kuliner tradisional,  tidak hanya menggugah kenangan kolektif, seperti Binthe Biluhuta, Binthe Bilanggahe, Binthe Tilenehu  hingga penganan Kokole, tapi juga,  memberikan secercah pandangan positif, bahwa jagung varietas asli Gorontalo, tidak harus punah, tereliminir atau termarginalkan oleh keberadaan jagung Hibrida.

Sementara itu, pemerhati budaya Gorontalo, Ali Mobiliu yang menjadi narasumber pembanding, mengatakan apresiasinya yang mendalam,  atas terbitnya buku ini. Menurutnya, selama ini sumber literasi yang berbasis akademik yang mengulas tentang Jagung lokal Gorontalo secara utuh,  sama sekali belum ada. Dengan begitu, buku ini merupakan yang pertama tercetus di Gorontalo yang patut disambut baik sebagai sumber literasi masa depan yang sangat berharga bagi generasi muda Gorontalo. Bahkan ia menyebut karya tulis ini, sebagai buku Ensiklopedi Jagung Gorontalo, karena sajian materinya yang tidak hanya naratif dan ilmiah, tapi juga telah merepresentasi kearifan budaya yang menyertakan narasi para pelaku (petani dan pedagang) Binthe Lo Hulonthalo.

Itulah sebabnya, dari buku ini, para pembaca secara gamblang dapat menerawang cakrawala keilmuan, memetik buah pemikiran dan mampu merengkuh secercah ide dan gagasan konstruktif tentang jagung. Melalui buku ini juga, konstruksi tentang Jagung, tidak sekadar menjadi brand imagenya Gorontalo, tapi dari jagung akan terbangun sistem nilai kearifan masyarakat Gorontalo sebagai daerah adat di Indonesia.

Olehnya, sebagai pemerhati budaya, Ali Mobiliu sangat mengapresiasi semangat dan kerja keras para penulis yang secara utuh,  menyuguhkan karya literasi yang membahas tentang jagung dengan tinjauan disiplin keilmuan yang multi dimensional dan bernilai strategis.

Ia meyakini, kehadiran buku ini, tidak sekadar menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang, tapi juga menjadi sumber referensi yang dapat mengguggah semangat para pengambil kebijakan, untuk kembali berkomitmen mengangkat pamor jagung yang tidak semata-mata berorientasi pada industri dan pasar, tapi juga berbasis pada ekosistem agraris biotik dan abiotik, ekologis, sosial, kultur dan spiritual yang sejatinya berinteraksi secara harmoni.

Paling tidak menurutnya, Pemerintahan di Gorontalo ke depan, dapat mendorong terwujudnya sistem zonasi pengembangan jagung lokal khas Gorontalo, guna memenuhi kebutuhan bahan baku bagi pelaku UMKM di bidang kuliner yang berbasis jagung khas Gorontalo.

Bagaimanapun, lanjutnya, dari segi kualitas, bobot, tekstur dan rasa, Jagung Gorontalo memiliki keunikan dan keunggulan-keunggulan tertentu yang tidak dimiliki oleh varian benih jagung manapun. Dengan demikian, jagung khas Gorontalo tidak akan punah, melainkan tetap hadir dan lestari melalui sentuhan-sentuhan inovasi dan daya kreativitas masyarakat yang akan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. (AM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *