Oleh : Ali Mobiliu
Jurnalis dan Pemerhati Budaya
(Annahdlah.com)- Alat musik Polopalo sebagai warisan budaya leluhur Gorontalo yang sempat menggema dan berkibar saat pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Tani dan Nelayan ke XVII di Limboto Kabupaten Gorontalo, Sabtu (20/6/2026) yang lalu, seakan mengingatkan kembali peran dan jasa besar 2 tokoh Gorontalo yang selama ini turut mengembangkan, membesarkan dan concern memperkenalkan serta mempromosikan alat musik Polopalo yang tidak hanya dalam tataran lokal Gorontalo bahkan sampai ke tingkat nasional dan internasional.
Tokoh pertama yang patut dikenang memiliki jasa besar mengangkat pamor alat musik Polopalo adalah seorang seniman dan budayawan Gorontalo, bernama Rusdin Palada (almarhum). Berkat kerja kerasnya, ia tidak hanya berhasil mengangkat pamor alat musik Polopalo yang tadinya hanya sekadar “permainan rakyat”, menjadi alat musik yang memiliki irama dan intonasi yang baku. Bahkan alat musik Polopalo, mampu menghasilkan irama yang enak didengar ketika dikolaborasikan dengan alat musik modern sekalipun.
Dari sebuah tulisan yang dikutip dari laman www.sanggar-polopalo.blogspot.com, Rusdin Palada disebut sebagai “The Father of Polopalo”. Predikat yang diberikan kepada pria kelahiran Suwawa 8 Juni 1947 tersebut, tidak hanya tepat, tapi sebuah julukan yang berhak ia sandang. Maklum saja, debut dan karir musiknya, terutama di era tahun 1980-an dihabiskannya untuk mempromosikan alat musik Polopalo dengan mempertontonkan kehandalannya dalam memainkan alat musik ini maupun mengkolaborasikannya dengan alat musik lainnya. Bahkan untuk membumikan alat musik ini, Rusdin Palada berhasil mendirikan Sanggar Polopalo, tepat saat peringatan hari patriotik 23 Januari tahun 1979 silam. Melalui sanggar ini, Rusdin Palada dan pecinta seni Gorontalo kala itu, tidak hanya berkiprah di Gorontalo, tapi mulai “Go Nasional”. Pada tahun itu juga untuk pertama kalinya dalam sejarah, alat musik Polopalo tampil di layar TVRI Nasional yang menjadi titik awal masyarakat Indonesia mengenal alat musik ini.
Masih dari sumber yang sama disebutkan, pada tahun 1980, Rusdin Palada dkk memainkan alat musik Polopalo mengiringi tarian di Hotel Hilton bersama Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Gorontalo (HPMIG) Jaya di depan arisan ibu-ibu dari negara Australia. Pada tahun 1981, Polopalo lembali tampil di Hotel Indonesia yang dibawakan oleh mahasiswa HPMIG Jaya. Pada tahun 1982, Rusdin Palada menerbitkan Buku Pengenalan Alat Musik Polopalo yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Tahun 1983, alat musik Polopalo masuk rekaman di Taman Impian Jaya Ancol untuk disiarkan di stasiun TVRI Senayan Jakarta. Tahun 1995, atas usaha dan kerja kerasnya, Rusdin Palada mengambil bagian dalam Parade Musik Sulawesi Utara di Hotel Borobudur Jakarta dengan menampilkan alat musik Polopalo. Tidak berhenti sampai di situ saja, upaya Rusdin Palada untuk mengenalkan alat musik ini terus berlanjut di era awal tahun 2000-an . pada 2002 misalnya, Rusdin Palada membawa alat musik Polopalo dalam kegiatan Pagelaran Seni Budaya Nusantara mewakili Provinsi Gorontalo di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Yang paling mengesankan terjadi pada tahun 2006, dimana alat musik Polopalo sudah go internasional, yakni tampil dalam Festival Budaya Indonesia di Malborne Australia bersama Sanggar Detila Batayla. Kebersamaan dengan Sanggar ini, Rusdin Palada kembali berhasil menampilkan alat musik Polopalo tampil pada kegiatan Seni dan Budaya Indonesia di Kairo Mesir pada tahun 2010. Sebelumnya, yakni tahun 2009, Rusdin Palada melayih anak-anak setingkat SD untuk tampil dalam acara seni dan budaya di sekolah internasional JighScope Jakarta.
Berkat dedikasinya itu, Rusdin Palada atau yang akrab disapa “Ka Rusu” di kalangan teman dan kerabat-kerabatnya itu, dianugerahi “Lamahu Award” sebagai putra terbaik Gorontalo di bidang Seni Budaya pada sebuah kegiatan di Jakarta yang diselenggarakan oleh organisasi Lamahu di Jakarta pada Oktiber 2010.
Tidak hanya berhasil mengangkat pamor alat musik Polopalo, Rusdin Palada juga semasa hidupnya mendedikasikan kecintaannya terhadap Gorontalo dengan menciptakan puluhan lagu-lagu berbahasa Gorontalo, sebutlah misalnya lagu Binthe Biluhuta, Bulalo Lo Limutu, Dabu-Dabu, lagu Hirameya dan masih ada sekitar 30-an judul lagu-lagu Gorontalo yang ia wariskan hingga kini. Dengan begitu, Rusdin Palada tidak cukup hanya disebut sebagai “Bapak alat musik Polopalo”, tapi juga seorang legenda, seniman besar Gorontalo yang karya-karyanya akan terus dikenang sepanjang masa.
Mengutip catatan anak bungsu dari Rusdin Palada yang kini bermukim di Jakarta, ayahnya adalah seorang seniman yang tidak pernah berhenti berkarya untuk memperkenalkan Gorontalo melalui musik dan seni budaya. Meski sejak lulus dari SMP Negeri Suwawa, ia telah meninggalkan Gorontalo untuk melanjutkan pendidikan STMA di Jokyakarta, dan sejak tahun 1967 berkarir di LABKRIM MABES POLRI (sekarang PUSLAFOR)) hingga tahun 2003, namun Rusdin Palada tidak pernah sekali-kali melupakan negeri leluhurnya. Di tengah kerinduannya akan kampung halamannya, kenangan indah masa-masa kecilnya dulu di Suwawa, kesemuanya itu, hanya bisa ia ekspresikan melalui karya-karya seni bercita rasa tinggi yang hingga kini tetap lestari. Dari negeri rantau yang begitu gemerlap dengan cahaya kota metropolitan, justru Rusdin Palada terus memancarkan cahaya keabadian dengan karya-karya seninya yang akan terus menginspirasi Gorontalo hingga lintas generasi. Kecintaan dan kerinduannya untuk Gorontalo memang sudah terkubur bersama jasadnya sejak 13 Februari 2011 silam, namunm ruh dan spirit dedikasinya untuk Gorontalo tetap hidup, pusaranya tetap memancarkan cahaya keabadian, sebagaimana dedikasi dan karya-karyanya yang tetap abadi dan tidak akan pernah terkubur sepanjang masa.
Tokoh kedua Gorontalo yang memiliki dedikasi yang juga tidak kalah menariknya untuk alat musik Polopalo, adalah Dr. Alwaritz Akili Nggole, MP. Meski dikenal sebagai birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo, istri dari mendiang politisi dan akademisi Prof. Dr. Rustam Hs Akili, SE, SH, MH ini, memiliki minat yang sangat besar dalam mengangkat pamor seni-budaya Gorontalo, khususnya alat musik Polopalo.
Tekad dan semangatnya untuk meneruskan jejak pengabdian Rusdin Palada dalam mempopulerkan alat musik Polopalo, berawal saat ia mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS) tahun 2014 lalu. Pada moment penting tersebut, kebetulan materi yang dibahas adalah tentang mengenal budaya Nusantara yang ruang lingkup pembahasannya, terkait dengan kekayaan dan khasanah pengetahuan tentang budaya nusantara. Disitulah, Alwarits Akili Nggole tampil memperkenalkan Polopalo sebagai alat musik yang berasal dari Gorontalo.
Mendapatkan respon yang positif dari para peserta Lemhanas yang terdiri dari perwira-perwira TNI-POLRI, pejabat teras Kementerian dan berbagai pejabat dari daerah seluruh Indonesia, tekad, semangatnya untuk mengangkat Polopalo seakan tak terbendung. Tidak heran jika Alwaritz Akili Nggole dengan berbagai upayanya secara swadaya, terus bergerilya, baik di Gorontalo maupun di luar Gorontalo melaksanakan berbagai pertunjukan alat musik Polopalo. Ia seakan tampil menjadi srikandi “Pemulung” Polopalo yang berobsesi akan terus mempopulerkan lagi alat musik Polopalo guna melanjutkan dedikasi almarhum Rusdin Palada.
Dalam sebuah tulisannya tahun 2014 itu, Alwaritz Nggole pernah menggoreskan mimpi-mimpinya tentang alat musik Polopalo sebagai berikut : “Berawal dari seorang yang mencintai seni, saya termasuk wanita yang punya impian lebih dari sekarang ini. ingin terus mendedikasikan sesuatu yang saya miliki untuk orang orang yang saya cintai yaitu keluarga. Mulai dari awal kecintaan dari seni,mengikuti beragam kegiatan saat kuliah sampai mengikuti acara acara kesenian dan broadcasting, ini ternyata bukan sekedar hobi. dan saya sadari setelah saya melewati semua hingga sampai saat ini. Pemulung adalah pahlawan lingkungan hidup dan itu benar.Saya menjadikan kalimat ini untuk memotivasi saya dalam mengembangkan alat tradisional gorontalo yaitu Polopalo dan saya adalah Pemulung Polopalo. Niat yang membawa saya untuk terus memperkenalkan alat musik ini untuk lebih di kenal diseluruh Nusantara,bahkan di mancanegara, agar semua orang tahu, semua orang dengar dimanapun di tempat tempat umum,di perkantoran di kampus-kampus bahkan sampai di sekolahpun Polopalo menjadi alat musik yang dikenal sebagai icon Gorontalo untuk mempererat tali kasih dan rasa saling mencintai. Banyak keinginan yang masih tersimpan dalam pikiran saya, dan tidak mungkin hanya saya saja yang melakukannya. butuh orang yang ingin berjuang bersama sama untuk mewujudkan mimpi ini, apakah anda? tidak cukup hanya dengan menerka-nerka, tidak cukup juga hanya dengan tulisan ini. AYOO..kita buat sesuatu yang berarti untuk diri anda dan saya,dengan cara melakukan hal hal yang berguna bagi lingkungan di sekitar anda, contoh sederhana adalah keluarga. dengan begitu kita bisa menjadi orang besar dengan apa yang sudah kita berikan untuk keluarga,lingkungan dan daerah ini. Ini baru awal..dan saatnya MULAI dari SEKARANG.. Semoga Allah. Swt. Senantiasa mewujudkan mimpi yang penuh dengan cinta ini..TANPA PAMRIH.
Berbagai konsep pemikiran dan kiprahnya untuk mengangkat pamor dan memperkenalkan alat musik Polopalo ini, selanjutnya dituangkan dalam sebuah Buku yang bertajuk : Alwaritz Nggole dan Mimpi sang Pemulung Polopalo yang terbit tahun 2016. Dalam buku ini, diulas berbagai kiat dan strategisnya dalam mengangkat Pamor alat musik Polopalo di forum-forum resmi pemerintahan, termasuk kolaborasinya dengan berbagai komunitas pecinta seni budaya di Gorontalo. Untuk itu, ia sangat bersyukur dan mengapresiasi pemerintah yang telah melirik alat musik Polopalo sebagai ikon daerah. Salah satunya, alat musik Polopalo telah diabadikan menghiasi sudut utama Taman Budaya di Limboto, termasuk di Pantai Pohon Cinta yang ada di Kec. Marisa Kab. Pohuwato. Demikian, juga alat musik Polopalo telah menjadi ikon penting Gorontalo dalam kegiatan-kegiatan seremonial pemerintahan. Yang terbaru adalah saat pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Tani dan Nelayan ke XVII di Kabupaten Gorontalo yang dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang juga turut memainkan alat musik Polopalo.
Tidak hanya alat musik Polopalo, sosok birokrat yang pernah mengemban tugas sebagai Kepala Badan Koordinasi Penyuluh (BAKORLUH) Provinsi Gorontalo ini, juga melirik alat musik tradisional lainnya, seperti Bomboliyonu, Tulali, Gambusi dan masih banyak lagi untuk dikembangkan, dilestarikan dan diangkat pamor serta keunikannya. Hal itu menurutnya sangat penting guna memperkaya khasanah seni budaya Gorontalo yang akan diwariskan kepada generasi Gorontalo di masa mendatang.
Berbagai kiprah dan kepeduliannya terhadap pelestarian seni budaya Gorontalo itulah, maka tidak mengherankan, jika Alwaritz Nggole dipercaya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Gorontalo. Ia dilantik oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) KSBN pusat, Mayor Jenderal TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, SH pada pada 28 Juni 2024 lalu di Grand Q Hotel Kota Gorontalo. Melalui wadah KSBN, Alwarits akan terus memainkan perannya untuk membangkitkan semangat generasi muda dalam mencintai seni budaya tradisional yang diwariskan oleh leluhur Gorontalo. Menurutnya, berbagai khasanah kekayaan seni budaya Gorontalo, tidak hanya menjadi identitas Gorontalo sebagai daerah adat yang berbudaya, tapi juga memberikan kontribusi yang besar dalam pengembangan kekayaan seni budaya nusantara. (AM)




