Mengenang Almarhum Rachmat Gobel, Inspirasi, Teladan dan Spirit Perjuangan untuk Gorontalo

Nasional, Warta38 Dilihat

Bagian Kedua

 

Annahdlah.com-Dimensi Kedua,  Sosok Politisi yang  Ideal. Dalam dunia politik, Rachmat Gobel dalam kiprahnya sudah selesai dengan “dirinya sendiri” dan keluarganya. Dalam perspektif politisi seperti ini, politik hanya sebagai wahana untuk membangun idealisme, politik sebagai medan pengabdian untuk masyarakat, ladang untuk  berbuat dan beramal yang kesemuanya itu,  bertumpu pada bagaimana mewujudkan harapan, aspirasi dan kepentingan masyarakat.

Politisi model ini, tidak lagi berpikir untuk kepentingan dirinya, keluarga dan kelompoknya. Bahkan model politisi seperti ini, tidak segan-segan merogoh sakunya sendiri, ketika berhadapan dengan sistem politik pragmatis, birokrasi pemerintahan yang berbelit dan sistem administrasi pelayanan publik yang tidak berpihak pada kaum marginal. Menariknya lagi, Rachmat Gobel telah mewariskan paradigma politik yang santun, etis dan politik yang mampu menempatkan diri secara elegan di tengah masyarakat.

Meski dalam politik identik dengan “warna” tertentu, tapi ketika politik berada di arena pengabdian untuk masyarakat, Rachmat Gobel tidak lagi menonjolkan fanatisme “warna”, melainkan kepentingan masyarakat yang menjadi rujukannya. Hal itu sangat jelas terlihat dari kiprahnya di kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo yang memberikan porsi perhatian yang sama untuk setiap daerah di kabupaten/kota. Mendiang almarhum semasa aktif sebagai Anggota DPR-RI kala itu, tidak lagi memandang Bupati/Walikota dari latar belakang “warna politik” apa, tapi dengan tulus dan ikhlas mengulurkan tangan untuk semua.

Itulah sebabnya, selama dalam kiprahnya di Gorontalo, almarhum tidak memiliki musuh politik. Semua pemimpin di Kabupaten/Kota dengan latar belakang partai politik yang beragam diperlakukannya sebagai sahabat dan mitra, demi kepentingan rakyat. Tidak heran, jika selama kiprahnya di dunia politik, khususnya di Gorontalo,  Rachmat Gobel telah meninggalkan “legacy” politik  yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Rachmat Gobel adalah sosok politisi ideal yang tidak mengenal politik menghujat, politik yang menista, manuver politik yang saling menjatuhkan atau “Tutuhiya”,  politik adu domba dan sangat jauh dari politik yang bersandar pada uang dan materi. Justru sebaliknya, di tengah “kekayaan” yang melimpah dengan “Isi Tas”yang bertengger di barisan teratas dibandingkan politisi lainnya di Gorontalo, namun sikap politik Rachmat Gobel tetap berbasis pada politik yang berkualitas dan berintegritas yang senantiasa mendidik, mengarahkan dan membimbing masyarakat  pemilih agar memilih pemimpin dengan rasionalitas yang bertumpu pada akal sehat bukan  atas dasar pemberian “uang”.

Dalam hal ini, almarhum Rachmat Gobel telah mewariskan paradigma politik yang bertumpu pada “kemurnian elektoral” yang semata-mata menyandarkan sumber suara dan pilihan yang berangkat dari hati nurani rakyat, bukan bersumber dari euforia politik pragmatis. Yang menarik adalah, almarhum Rachmat Gobel adalah politisi yang tidak berorientasi pada “kekuasaan”, tapi pada pengabdian. Hal itu sangat jelas tercermin dari sikapnya yang legowo dan tidak mentang-mentang. Jika saja beliau mau dan bersedia mencalonkan dalam setiap kali prosesi Pemilihan Gubernur di Gorontalo, sudah dapat dipastikan, ia akan terpilih dan duduk sebagai orang nomor satu di Provinsi Gorontalo. Namun ternyata beliau enggan dan nampaknya lebih enjoy, merasa lebih leluasa untuk mendedikasikan dharma baktinya untuk rakyat di luar panggung pemerintahan Provinsi. Pernah dalam sebuah diskusi dengan beliau pada awal terbentuknya Provinsi Gorontalo, saya kala itu menyampaikan permintaan, agar beliau maju sebagai calon Gubernur Gorontalo. Namun ternyata beliau tidak mencalonkan. Demikian juga, saat menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2024 lalu, saya pernah menyatakan kepada beliau, jika pak Rachmat Gobel maju sebagai calon Gubernur, maka saya tidak akan maju mencalonkan diri, tapi jika beliau tidak mencalonkan, maka saya yang akan mencalonkan diri sebagai Gubernur. Lagi-lagi dalam perjalanannya, ternyata beliau tidak mencalonkan sehingga saya berani maju sebagai calon Gubernur. Dari sini sangat jelas terlihat, bahwa Rachmat Gobel memiliki prinsip politik yang elegan untuk memberikan kesempatan kepada kader pemimpin lainnya memimpin Gorontalo dan ia lebih memilih dengan tulus dan ikhlas mendukung, mensuport serta memberi penguatan terhadap program-program pemerintahan yang terpilih. Tujuannya hanya satu, yakni demi kemaslahatan rakyat dan kemajuan Gorontalo.

Dimensi Ketiga, Tidak Pernah melupakan Negeri Leluhur.  Semasa hidupnya almarhum Rachmat Gobel merupakan potret orang Gorontalo yang meski lahir dan dibesarkan di  Jakarta, dengan segala capaian kesuksesan yang diraihnya hingga memiliki jejaring mitra di dalam negeri dan di luar negeri, namun ia tidak pernah melupakan negeri leluhurnya.

Sikap ini patut menjadi contoh dan teladan bagi orang Gorontalo atau mereka  yang berdarah Gorontalo dan meraih sukses di negeri rantau. Dalam konteks ini, Rachmat Gobel sangat menghayati betul  nasehat mendiang kedua orang tuanya, Drs. H. Mohamad Thayeb Gobel dan sang Ibu Hj.Ani Nento Gobel yang berpesan kepadanya untuk tidak melupakan daerah leluhur Gorontalo.

Manifestasi kepeduliannya untuk Gorontalo, tidak hanya diwujudkan melalui berbagai bantuan pemberdayaan untuk masyarakat, maupun sumbangsih ide dan gagasan serta pemikiran untuk kemajuan Gorontalo, tapi lebih dari itu, almarhum Rachmat Gobel, juga menjunjung tinggi adat-istiadat dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur Gorontalo. Bahkan ia tidak segan-segan memperkenalkan dan mempromosikan khasanah kekayaan budaya Gorontalo di kancah nasional. Ia juga memperkenalkan budaya Gorontalo kepada anak-anaknya beserta keluarga besarnya di Jakarta.

Dikutip dari laman Nasdemdprri.id (2022), Rachmat Gobel pernah mengatakan, melestarikan budaya Gorontalo baginya dan bagi keluarganya adalah kewajiban. “Budaya Gorontalo bagi kami adalah kewajiban dan amanah yang dititipkan para leluhur kami,” ujarnya usai menerima kunjungan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti di Rumah Adat Gobel Tapa, Gorontalo, Rabu (13/7/2022).

Tidak heran jika di Jakarta, ia membangun sebuah Sanggar Budaya Gorontalo yang khusus melakukan pementasan-pementasan seni-budaya Gorontalo. “Dimanapun kami tinggal, adat dan budaya Gorontalo harus dilestarikan,” ujarnya seperti dikutip dari laman nasdemdprri.id. Maka tidak mengherankan pula, jika Duwango Lo Adati Lo Hulontalo, menganugerahinya gelar adat (Pulanga) sebagai “Ti Bulilango Lo Hunggia” yang berarti “Cahaya untuk Negeri” pada tahun 2000 silam.

Selanjutnya, tidak lama setelah prosesi pemakamannya pada 10 Juli 2026, Duwango Lo Adati (Dewan Adat) Gorontalo kembali menganugerahinya gelar adat (Gara’i) “Taa Lo’o Lamahe Lipu”. Gelar kehormatan ini diputuskan melalui sidang adat dan diumumkan sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian, jiwa, raga, serta harta yang dicurahkan almarhum untuk kemakmuran dan kemajuan masyarakat Gorontalo. Gara’i ini diberikan sebagai manifestasi penghargaan kepada sosok almarhum yang semasa hidupnya “Taa Lomaya lo Batanga” atau yang mengabdikan diri untuk kemajuan Gorontalo, “Taa lo Dungalo Nyawa” atau yang mempertaruhkan nyawa untuk negeri dan “Taa lo Tombulu lo Upango ode Lamahu Lipu” yang artinya yang mendermakan hartanya untuk kemakmuran negeri.

Semoga saja, segala bentuk sikap luhur yang telah dicontohkan oleh almarhum Rachmat Gobel dapat menjadi teladan bagi generasi Gorontalo,.khususnya mereka yang berada di negeri rantau untuk mendedikasikan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan dan masa depan Gorontalo. Jika saja seluruh keturunan Gorontalo yang sukses di negeri rantau, memiliki semangat yang sama dalam menjunjung tinggi negeri leluhur seperti yang dilakoni oleh almarhum Rachmat Gobel semasa hidupnya, bukan hal yang tidak mungkin, Gorontalo akan meraih lompatan kemajuan yang signifikan. BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *